A world without love is a chaos

Because love can unite everyone.

Kamis, 23 Desember 2010

Sejarah Sumatera Barat

Dari zaman prasejarah sampai kedatangan orang Barat, sejarah Suma­tera Barat dapat dikatakan identik dengan sejarah Minangkabau. Walau­pun masyarakat Mentawai diduga te­lah ada pada masa itu, tetapi bukti-bukti tentang keberadaan mereka masih sa­ngat sedikit.

Masa Prasejarah

Di pelosok desa Mahat, Suliki Gunung Mas, Kabupaten Lima Puluh Kota banyak ditemukan peninggalan kebudayaan megalitikum. Bukti arkeologis yang dite­mukan di atas bisa memberi indikasi bahwa daerah Lima Puluh Kota dan sekitarnya merupakan daerah pertama yang dihuni oleh nenek moyang orang Minangkabau. Penafsiran ini ber­alasan, karena dari luhak Lima Puluh Kota ini mengalir beberapa sungai besar yang bermuara di pantai timur pu­lau Sumatera. Sungai-sungai ini dapat dilayari dan memang menjadi sarana transportasi yang penting dari zaman dahulu hingga akhir abad yang lalu.
Nenek moyang orang Minang­kabau diduga datang melalui rute ini. Mereka berlayar dari daratan Asia (In­dochina) mengarungi Laut Cina Sela­tan, menyeberangi Selat Malaka dan kemudian melayari sungai Kampar, sungai Siak, dan sungai Inderagiri. Setelah melakukan perjalanan panjang, mereka tinggal dan mengembangkan kebudayaan serta per­adaban di wilayah Luhak nan Tigo (Lima Puluh Kota, Agam, Tanah Datar) sekarang.
Percampuran dengan para penda­tang pada masa-masa berikutnya me­nyebabkan tingkat kebudayaan mere­ka jadi berubah dan jumlah mereka ja­di bertambah. Lokasi pemukiman mereka menjadi semakin sempit dan akhirnya mereka merantau ke berba­gai bagian Sumatera Barat yang lainnya. Sebagian pergi ke utara, menuju Lubuk Sikaping, Rao, dan Ophir. Sebagian lain pergi ke arah selatan menuju Solok, Sijunjung dan Dharmasraya. Banyak pula di antara me­reka yang menyebar ke bagian barat, teruta­ma ke daerah pesisir, seperti Tiku, Pariaman, dan Painan.
  
Kerajaan-kerajaan Minangkabau

Menurut tambo Minangkabau, pada periode abad ke-1 hingga abad ke-16, banyak berdiri kerajaan-kerajaan kecil di selingkaran Sumatera Barat. Kerajaan-kerajaan itu antara lain Kesultanan Kuntu, Kerajaan Kandis, Kerajaan Siguntur, Kerajaan Pasumayan Koto Batu, Bukit Batu Patah, Kerajaan Sungai Pagu, Kerajaan Inderapura, Kerajaan Jambu Lipo, Kerajaan Taraguang, Kerajaan Dusun Tuo, Kerajaan Bungo Setangkai, Kerajaan Talu, Kerajaan Kinali, Kerajaan Parit Batu, Kerajaan Pulau Punjung dan Kerajaan Pagaruyung. Kerajaan-kerajaan ini tidak pernah berumur panjang, dan biasanya berada dibawah pengaruh kerajaan-kerajaan besar, Malayu dan Pagaruyung.
 
Kerajaan Malayu
Kerajaan Malayu diperkirakan pernah muncul pada tahun 645 yang diperkirakan terletak di hulu sungai Batang Hari. Berdasarkan Prasasti Kedukan Bukit, kerajaan ini ditaklukan oleh Sriwijaya pada tahun 682. Dan kemudian tahun 1183 muncul lagi berdasarkan Prasasti Grahi di Kamboja, dan kemudian Negarakertagama dan Pararaton mencatat adanya Kerajaan Malayu yang beribukota di Dharmasraya. Sehingga muncullah Ekspedisi Pamalayu pada tahun 1275-1293 di bawah pimpinan Kebo Anabrang dari Kerajaan Singasari. Dan setelah penyerahan Arca Amonghapasa yang dipahatkan di Prasasti Padang Roco, tim Ekpedisi Pamalayu kembali ke Jawa dengan membawa serta dua putri Raja Dharmasraya yaitu Dara Petak dan Dara Jingga. Dara Petak dinikahkan oleh Raden Wijaya raja Majapahit pewaris kerajaan Singasari, sedangkan Dara Jingga dengan Adwaya Brahman. Dari kedua putri ini lahirlah Jayanagara, yang menjadi raja kedua Majapahit dan Adityawarman kemudian hari menjadi raja Pagaruyung.
  
Kerajaan Pagaruyung

Sejarah propinsi Sumatera Barat menjadi lebih terbuka sejak masa pemerintahan Adityawarman. Ra­ja ini cukup banyak meninggalkan prasasti mengenai dirinya, walaupun dia tidak pernah mengatakan dirinya sebagai Raja Minangkabau. Aditya­warman memang pernah memerintah di Pagaruyung, suatu negeri yang di­percayai warga Minangkabau sebagai pusat kerajaannya.
Adityawarman adalah tokoh pen­ting dalam sejarah Minangkabau. Di samping memperkenalkan sistem pe­merintahan dalam bentuk kerajaan, dia juga membawa suatu sumbangan yang besar bagi alam Minangkabau. Kon­tribusinya yang cukup penting itu adalah penyebaran agama Buddha. Agama ini pernah punya pengaruh yang cukup kuat di Minangkabau. Ter­bukti dari nama beberapa nagari di Sumatera Barat dewasa ini yang berbau Budaya atau Jawa seperti Saruaso, Pa­riangan, Padang Barhalo, Candi, Bia­ro, Sumpur, dan Selo.
Sejarah Sumatera Barat sepe­ninggal Adityawarman hingga perte­ngahan abad ke-17 terlihat semakin kompleks. Pada masa ini hubungan Su­matera Barat dengan dunia luar, ter­utama Aceh semakin intensif. Sumate­ra Barat waktu itu berada dalam dominasi politik Aceh yang juga memo­nopoli kegiatan perekonomian di dae­rah ini. Seiring dengan semakin inten­sifnya hubungan tersebut, suatu nilai baru mulai dimasukkan ke Sumatera Barat. Nilai baru itu akhimya menjadi suatu fundamen yang begitu kukuh melandasi kehidupan sosial-budaya masyarakat Sumatera Barat. Nilai baru tersebut adalah agama Islam.
Syekh Burhanuddin dianggap sebagai pe­nyebar pertama Islam di Sumatera Barat. Sebelum mengembangkan aga­ma Islam di Sumatera Barat, ulama ini pernah menuntut ilmu di Aceh.
  
Kerajaan Inderapura

Jauh sebelum Kerajaan Pagaruyung berdiri, di bagian selatan Sumatera Barat sudah berdiri kerajaan Inderapura yang berpusat di Inderapura (kecamatan Pancung Soal, Pesisir Selatan sekarang ini) sekitar awal abad 12. Setelah munculnya Kerajaan Pagaruyung, Inderapura pun bersama Kerajaan Sungai Pagu akhirnya menjadi vazal kerajan Pagaruyung.
Setelah Indonesia merdeka sebagian besar wilayah Inderapura dimasukkan kedalam bagian wilayah provinsi Sumatera Barat dan sebagian ke wilayah Provinsi Bengkulu yaitu kabupaten Pesisir Selatan sekarang ini. 

Perang Padri

Perang Paderi meletus di Minangkabau antara sejak tahun 1821 hingga 1837. Kaum Paderi dipimpin Tuanku Imam Bonjol melawan penjajah Hindia Belanda.
Gerakan Paderi menentang perbuatan-perbuatan yang marak waktu itu di masyarakat Minang, seperti perjudian, penyabungan ayam, penggunaan madat (opium), minuman keras, tembakau, sirih, juga aspek hukum adat matriarkat mengenai warisan dan umumnya pelaksanaan longgar kewajiban ritual formal agama Islam.
Perang ini dipicu oleh perpecahan antara kaum Paderi pimpinan Datuk Bandaro dan Kaum Adat pimpinan Datuk Sati. Pihak Belanda kemudian membantu kaum adat menindas kaum Padri. Datuk Bandaro kemudian diganti Tuanku Imam Bonjol.
Perang melawan Belanda baru berhenti tahun 1838 setelah seluruh bumi Minang ditawan oleh Belanda dan setahun sebelumnya, 1837, Imam Bonjol ditangkap.
Meskipun secara resmi Perang Paderi berakhir pada tahun kejatuhan benteng Bonjol, tetapi benteng terakhir Paderi, Dalu-Dalu, di bawah pimpinan Tuanku Tambusai, barulah jatuh pada tahun 1838.
  
Dari Perang Padri sampai Perang Belasting

Berakhirnya perang Padri menandai perubahan besar di Minangkabau. Kerajaan Pagaruyung runtuh dan di tempatnya berdiri pemerintahan Hindia Belanda.
Belanda memerintah diatur oleh perjanjian Plakat Panjang (1833). Di dalamnya Belanda berjanji untuk tidak mencampuri masalah adat dan agama nagari-nagari di Minangkabau. Belanda juga menyatakan tidak akan memungut pajak langsung. Hal ini menyebabkan para pemimpin Minangkabau membayangkan dirinya sebagai mitra bukannya bawahan Belanda.
Sebagaimana di daerah lain di Hindia Belanda pemerintah kolonial memberlakukan Tanam Paksa (cultuurstelsel) di Sumatera Barat. Sistem ini menjadikan para pemimpin adat sebagai agen kolonial Belanda.
Penjajahan Belanda berpengaruh besar pada tatanan tradisional masyarakat Minangkabau. Di Sumatera Barat Belanda membuat jabatan baru, seperti penghulu rodi. Kerapatan Nagari dijadikan sebagai lembaga pemerintahan terendah, dan kepemimpinan kolektif para penghulu ditekan dengan keharusan memilih salah seorang penghulu menjadi Kepala Nagari. Serikat nagari-nagari (laras, Bahasa Minang: lareh) yang sebenarnya merupakan persekutuan longgar atas asas saling menguntungkan, dijadikan sebagai lembaga pemerintahan yang setara dengan kecamatan.
Belanda juga berusaha mematikan jalur perdagangan tradisional Minangkabau ke pantai timur Sumatera yang menyusuri sungai-sungai besar yang bermuara di Selat Malaka, dan mengalihkannya ke pelabuhan di pantai Barat seperti Pariaman dan Padang. Pada tahun 1908 Belanda menghapus sistem Tanam Paksa dan memberlakukan pajak langsung. Perang Belasting pun meletus.
  
Gerakan Islam Modernis di Minangkabau

Perlawanan terhadap Belanda di Sumatera Barat pada awal abad ke-20 memiliki warna Islam yang pekat. Dalam hal ini gerakan Islam modernis atau yang lebih dikenal sebagai Kaum Muda sangat besar peranannya.
Ulama-ulama Kaum Muda mendapat pengaruh besar dari modernis Islam di Kairo, yaitu Muhammad Abduh dan Syekh Muhammad Rasyid Ridha, dan juga senior mereka Jamaluddin Al-Afghani. Para pemikir ini punya kecenderungan berpolitik, namun karena pengaruh Syeikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi yang menjadi guru ulama Kaum Muda generasi pertama mereka umumnya hanya memusatkan perhatian pada dakwah dan pendidikan. Abdullah Ahmad mendirikan majalah Al-Munir (1911-1916), dan beberapa ulama kaum Muda lain seperti H. Abdul Karim Amrullah (Haji Rasul) dan Muhammad Thaib ikut menulis di dalamnya.
Dari majalah ini pemikiran kaum muda semakin disebarkan. Ulama Kaum Muda menantang konsep agama tradisional yang sudah mapan, menentang taqlid buta, dan merangsang sikap kebebasan berpikir. Tulisan dan pidato mereka memicu pertentangan dan perdebatan sengit di ranah Minang.
Tahun 1918 sebagai kelanjutan perguruan agama tradisional Surau Jembatan Besi berdirilah sekolah Sumatera Thawalib. Selain pendirinya H. Abdul Karim Amrullah guru lain yang berpengaruh di sekolah ini adalah Zainuddin Labai el-Yunusiah yang juga mendirikan sekolah Diniyah. Berbeda dengan Sumatera Thawalib yang terutama adalah perguruan agama sekolah Diniyah menekankan pada pengetahuan umum, seperti matematika, ilmu falak, ilmu bumi, kesehatan dan pendidikan. Kedua sekolah ini berhubungan erat.
Banyak tokoh pergerakan atau ulama seperti Ahmad Rasyid Sutan Mansur, Djamaluddin Tamin, H. Dt. Batuah, H.R. Rasuna Said dan Hamka merupakan murid atau pernah mengajar di perguruan di Padang Panjang ini.
Di kedua perguruan ini berkembang berbagai gagasan radikal. Pada dasawarsa 1920-an sebuah gagasan baru mulai menarik hati para murid sekolah Padang Panjang: komunisme. Di Padang Panjang pentolan komunis ini terutama Djamaluddin Tamin dan H. Datuk Batuah. Gagasan baru ini ditentang habis-habisan Haji Rasul yang saat itu menjadi guru besar Sumatera Thawalib.
Gerakan Islam Modernis ini tidak didiamkan saja oleh ulama tradisional. Tahun 1930 ulama tradisional mendirikan Perti (Persatuan Tarbiyah Islamiyah) untuk mewadahi sekolah Islam Tradisional.

Terbukanya Pintu Neraka DI Bumi

Syerem gan Ada sebuah lubang besar yang didalamnya berisi lahar panas

menurut para ahli itu adalah pintu neraka..Bener ga ya??











6 Pedang Legedaris Sejagad

digunakan untuk menebas apa saja, serta bagian ujungnya yang tajam adalah titik untuk sebuah serangan. Pedang telah digunakan dalam perang sejak zaman dahulu kala. Banyak kisah telah berbaur tentang pedang-pedang tertentu. Pada thread kali ini ane mau ngajak agan melihata 6 pedang pedang legendaris yang terus memikat hingga saat ini.

Berikut adalah beberapa pedang legendaris yang berhasil dikumpulkan dengan mengacu kepada historinya, mitologinya dan juga literaturnya.

1. Zulfiqar 
Zulfiqar adalah pedang terkenal dalam sejarah islam yang dimiliki oleh imam ali, dari banyak catatan sejarah, nabi muhammad saw mempersembahkan zulfiqar ini kepada ali muda di pertempuran uhud. Selama pertempuran, ali banyak menghempaskan musuh dengan pedang ini. Dari kebanyakan catatan sejarah yang ada, ali lebih sering menggunakan pedang ini terlebih pada saat di pertempuran parit yang ketika itu lawannya adalah amr bin abdawud, yang kekuatannya satu dibandingkan seribu orang. Dengan pedang ini ali membunuhnya dengan satu pukulan yang kuat meskipun amr memakai baju besi yang kuat dan membawa senjata ampuh. Pedang ini adalah salah satu simbol tertua dan paling terkenal dalam sejarah islam. Pedang ini juga pernah digunakan dalam pertempuran karbala oleh imam husain.

2. Flaming sword 



Adalah sebuah pedang berapi yang memiliki kekuatan supranatural. Pedang ini telah ada dalam legenda dan mitos selama ribuan tahun. Menurut alkitab, seorang ksatria dengan pedang berapi tersebut ditempatkan oleh allah di gerbang surga setelah adam dan hawa terusir dari syurga (kejadian 03:24).

"Dia ditempatkan di sebelah timur taman eden,

dan dengan sebuah pedang berapi yang akan menjaga pohon kehidupan"
kejadian 3:24.

Dalam tradisi kristen ortodoks timur mengatakan bahwa sejak saat yesus dilahirkan, pedang berapi ini telah dihapus dari taman eden, sehingga memungkinkan bagi manusia untuk kembali masuk surga.

3. Excalibur


Excalibur adalah pedang raja arthur yang legendaris, kadang-kadang dihubungkan dengan kekuatan magis atau berhubungan dengan kedaulatan yang sah dari britania raya. Kadang excalibur dan pedang di stone (bukti keturunan arthur) dikatakan sebagai senjata yang sama, tetapi di sebagian besar versi mereka dianggap berbeda. Pedang ini dikaitkan dengan legenda arthur pada periode awal. Dalam welsh, pedang disebut caledfwlch.

Ada dua pedang yang muncul dalam legenda-legenda arthur: Pedang di batu, yang hanya bisa di cabut oleh arthur, sehingga membuktikan kerajaan yang sah, dan pedang yang diberikan kepadanya oleh lady danau. Dalam beberapa versi hanya ada satu pedang, sementara di lain versi, pedang di batu kemudian rusak dan kemudian arthur menerima excalibur dari lady of lake. Memiliki asal-usul pedang ajaib tersebut tidak bisa terpecahkan hingga kini.


4. Kusangi-no-tsurugi 
 
Kusanagi-no-tsurugi adalah pedang legendaris di jepang dan merupakan salah satu dari tiga tanda kerajaan jepang. Pedang ini pada awalnya disebut ama-no-murakumo-no-tsurugi ("pedang awan surga ") tapi namanya kemudian diubah menjadi lebih populer kusanagi-no-tsurugi ("pedang pemotong rumput").

Pada masa pemerintahan kaisar xii, pedang ini dibuat untuk yamato takeru, yang memimpin dalam perang padang rumput terbuka. Musuhnya merencanakan akan rumput hingga yamato mati. Dalam keputusasaannya, yamato mulai memotong rumput yang berkobar dengan pedangnya tersebut dan ia sungguh takjub bahwa pedang tersebut mampu mengendalikan angin. Dengan menggunakan kekuatan pedang ini, yamato membabat habis musuh-musuhnya dan mengalahkan mereka. Setelah yamamoto tewas dalam sebuah pertempuran besar tahun 1371, pedang ini hilang di laut dan sejak itulah kusanagi dikatakan telah hilang selamanya.


5. Shamshir-e-zomorrodnegar  
Shamshir-e zomorrodnegar atau "pedang bertabur zamrud" adalah pedang dalam legendaris persia. Dikisahkan ibu penyihir dari setan bertanduk mengerikan yang disebut fulad digunakan untuk membuat tubuh fulad-zereh kebal dari semua senjata kecuali pukulan pedang khusus yang disebut shamshir-e zomorrodnegar.

Pedang ini awalnya milik raja salomo, dan dengan hati-hati dijaga oleh fulad-zereh, bukan hanya karena itu pedang ini menjadi senjata yang berharga, dan memang satu-satunya senjata yang bisa membahayakan setan, tetapi juga karena dengan memakainya adalah akan menebarkan pesona sihir. Sebuah luka yang diakibatkan oleh pedang ini hanya bisa diobati dengan ramuan khusus yang dibuat dari sejumlah bahan, termasuk otak fulad-zereh's.



6. Glory of ten powers 
Glory of ten powers adalah pedang legendaris cina yang dikatakan diciptakan di tibet oleh suami dan istri penyihir kuno. Cinta dari pasangan ini saat membuat pedang magis menyebabkan semangat besar masuk kedalam pedang ini. Pedang ini akan melindungi pemakainya dengan kekuatan sihir nya.

Blogger Visitors

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More